Surya Fajar – Kemendikbudristek akan mendukung penuh semua kegiatan yang bertujuan mengenalkan kebudayaan dari seluruh suku yang ada di Indonesia kepada dunia.
Demikian disampaikan Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Sjamsul Hadi. Menurutnya,, sejumlah upaya generasi muda untuk melestarikan budaya sesuai dengan amanat undang-undang.
“Supaya generasi muda itu mengenal kearifan-kearifan lokal yang dimiliki oleh suku-suku bangsa di Indonesia,” ungkapnya saat konferensi pers Diskusi, Kreasi dan Interaksi (DISTRAKSI) III bertema ‘Arat Sabulungan: Jalan Hidup Berkelanjutan Suku Mentawai’ di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (25/11/2022).
Oleh karena itu, Sjamsul menegaskan, bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi (Kemendikbudristek) memberikan ruang seluas-luasnya. Serta mendorong upaya-upaya inisiatif pengenalan budaya yang dilakukan oleh generasi muda.
“Dengan kami menggandeng, kolaborasi dengan mahasiswa dan juga perguruan tinggi, Kemendikbudristek membuka ruang. Pertama, melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka,” ujarnya.
Tujuannya, Sjamsul mengatakan, agar mahasiswa dapat belajar tentang kearifan lokal. “Harapannya dari Kemendikbud itu tidak hanya berhenti di Suku Mentawai, tapi suku-suku lain pun akan muncul pengenalan budayanya,” jelasnya.
“Masing-masing dikenal dari Sabang-Merauke, sesuai amanat Bapak Presiden Jokowi, ada upaya-upaya kemandirian. Seperti ketahanan pangan berbasis masyarakat apabila terjadi goncangan ekonomi dunia maka Indonesia tetap stabil,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Pelaksana Distraksi III Bimo Adi Pradono menyampaikan, selain Kemendikbudristek, acara kali ini juga kerja sama dengan banyak pihak. Seperti Indonesia Institute of Advanced International Studies (INADIS), Mentawai Institute, Museum Kebangkitan Nasional, MBloc Space, dan Universitas Kristen Indonesia (UKI).
“Tujuan dari acara ini adalah memperkenalkan kebudayaan Suku Mentawai kepada masyarakat luas. Serta merefleksikan relevansi kebudayaan tersebut dengan pembangunan berkelanjutan kontemporer,” ujarnya.
Bimo menambahkan, acara tersebut diisi dengan dua kegiatan utama, yakni seminar dan pameran kebudayaan. Seminar akan membahas tentang relevansi Arat Sabulungan dengan pembangunan berkelanjutan.
Seminar sendiri diisi oleh Guru Besar bidang Etnobotani dari UKI Marina Silalahi, dan Aktivis Kebudayaan Sari Fitriani. Seminar dilanjutkan dengan pameran kebudayaan yang menampilkan tarian, film dokumenter, artefak dan wujud budaya lain dari Suku Mentawai.
