Surya Fajar – Direktur Utama RS Kanker Dharmais Soeko Nindito mengatakan, rata-rata pasien kanker di Indonesia mengalami kanker stadium lanjut. Hal itu karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini penyakit kanker.
“Di kita ini banyak pasien kanker stadium lanjut, jadi sudah telat. Jadi dokter kita sudah terbiasa dengan itu,” kata dr Soeko saat ditemui di Jakarta, Jumat (3/2/2023).
Dia mengungkapkan, hal itu jauh berbeda dengan penanganan kanker di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Pasalnya, mayarakat di negara maju sudah sadar akan pentingnya deteksi dini penyakit untuk bisa menyembuhkan lebih cepat.
“Sementara mereka negara maju deteksi dininya sudah bagus, mereka stadium awal, sehingga tata laksananya pun berbeda. Nah ini yang akan kita match kan untuk perkembangan kedepan,” ujar Soeko.
Selain itu, pihaknya menyebut ada empat faktor yang mempengaruhi masyarakat terhadap pemeriksaan deteksi dini. Di antaranya, faktor pengetahuan, sumber daya, budaya, dan psikososial yang perlu diperhatikan.
“Belum tentu masyarakat kita mudah untuk (menerima) untuk disediakan deteksi dini. Sehingga banyak faktor psikososial yang harus kita perhatikan juga,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku sistem kesehatan di Indonesia masih memiliki keterbatasan. Sebab, terkadang masuknya dokter ahli ataupun masuknya informasi baru terkait penyakit masih belum mulus.
Untuk itu, pihaknya menjalin kerja sama dengan The University of Texas MD Anderson Cancer Center yang berada di Amerika Serikat. The University of Texas MD Anderson Cancer Center merupakan salah satu pusat layanan kanker terbaik di dunia.
“Dengan dukungan ini, Kementerian Kesehatan memastikan bahwa dokter-dokter ahli yang mau masuk. Teknologi-teknologi baru yang mau masuk selama itu didukung oleh institusi terkemuka like MD Anderson (seperti MD Anderson), kita harusnya welcome (terbuka),” ujar Menkes Budi dalam agenda Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Jakarta, Jumat (3/2/2023).
